Love isn’t How Handsome You are … ~ Part 2


Title                       : love is not how handsome you are (part 2)

Type                      : Chapter

Genre                   : romantic, friendship, school life, fantasy, PG 15+

Main cast             : Kim So Eun and Kim Bum

Other Cast          : Yoon Asa Kim Joon

Disclaimer           : this is just a fan fiction. Fan fic ini tidak berdasarkan fakta yang ada. Saya hanya meminjam nama kim so eun, kim bum dan kim joon. Sementara yoon asa adalah karakter saya. Cerita ini tidak berhubungan dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan para artis-artis idola. So don’t sue me a lot. Just read, like, and comments readers ^^

Description         : fan fic ini terispirasi dari film Beastly yang dibintangi oleh Vanessa Hudgens ^^ suka ama filmnya, dan jadi kepikiran pengen buat fan fiction versi SOEULMATE COUPLE nya walaupun gak mirip2 amat dengan film asli yang dibintangi ama Vanessa. Hihi ^^ semoga suka ya readers ^^

***

(Kim Bum’s POV)

Ruangan dalam kamarku sangat amat gelap. Aku sengaja, sengaja menutup semua jendela dan gorden, dan lampu dalam kamarku juga sengaja aku matikan. Semua cermin yang dapat memantulkan bagaimana raut wajah dan tubuhku, sudah aku pecahkan dengan tongkat baseball dan bola kaki yang memang ada didalam ruangan kamarku yang sangat luas. Aku menyendiri, sengaja. Aku tak mau bertemu siapapun kecuali Ibu Nana, seorang ibu yang sudah menjagaku semenjak aku kecil.

Kau harus operasi plastic. Kau pasti salah makan obat atau kau salah makan sesuatu yang berbahaya diluar rumah. Atau bagaimana kalau kau pindah saja? Ayah akan bilang pada sekolah kalau kau harus menjalani pengobatan di salah satu Negara terhebat. Jadi kau bisa pindah dari rumah ini. Kalau kau mau kau bisa tinggal di apartemen yang dulu pernah ibumu tinggali beberapa bulan untuk menghindar dari netizen dan papparazi. Kau bisa tinggal disana.

Kata-kata ayah masih terngiang dengan jelas ditelinga dan pikiranku. Ayah malu? Iya, ayah malu dengan keadaan ku yang tiba-tiba bisa berubah menjadi monster seperti ini. Wajahku berubah 180 derajat dari sebelumnya. Urat-urat timbul dengan bebasnya di seluruh wajah dan tubuhku. Ada banyak bercak hitam dan luka lecet yang menghiasi wajahku. Dan juga tumbuh berbagai macam kutil serta benjolan-benjolan menjijikkan yang tumbuh disekitar pipi dan juga leherku. Aku benar-benar sudah berubah menjadi mengerikan saat ini. Pantas saja kalau ibu jatuh pingsan saat membangunkan ku tadi pagi.

Drrd Drrd Drrd

Ponselku bergetar, ada sms dan dikirimkan langsung secara bersamaan oleh orang  yang berbeda.

“joon…”

Bum-ah, kau dimana? Kau tidak lupa kalau hari ini pemilihan suara ‘kan? Cepat bangun dan datang ke sekolah. Penggemarmu sudah menunggumu…

-Joon-

“shit, haha… penggemar?” gumamku sinis.

Aku langsung mendelete pesan yang joon kirimkan baru saja padaku. Dan aku lantas langsung membuka sms kedua yang dating dari ….

Kimbum-ssi..

Kau datang hari ini ‘kan? Aku tidak melihatmu di ruangan kelasmu? Aku khawatir kalau rivalku lupa akan hari menegangkan ini. Jadi aku memutuskan untukmenghubungimu. Cepat datang, kami menunggumu ^^

-kim so eun-

“ … “

Aku masih tetap memperhatikan setiap detil dari kalimat yang dikirimkan oleh soeun melalui pesan singkat ini. Yang aku rasakan bukan hawa persaingan dan permusuhan. Tapi, tapi aku merasakan kalau … kalau soeun tulus mengkhawatirkan aku. Apa aku…

Tok tok tok…

Aku tersadar dari lamunanku dengan menatap layar iPhone yang ada ditanganku. Aku lantas langsung memakai hoodie dan membenahi posisi dudukku.

“s..si..siapa?” teriakku bertanya.

“aku… nana…”

Iya, aku kenal dengan suara itu. Itu memang ibu nana yang menjawab. Aku bangkit dari sofa dan langsung beranjak membuka pintu.

“ibu.. sendirian…”

“ya…”

Aku lega berdiri di depan pintu setelah mendengar jawaban yang ibu nana katakan barusan. Aku lantas membuka pitu dan membiarkan wanita berumur 45 tahun itu masuk dengan membawa nampan berisikan makanan.

“kau, belum makan ‘kan? Ini makanan kesukaanmu. Kau harus makan…” ucap ibu nana.

Aku mengunci pintu kamarku dan mengikuti ibu nana yang membawa nampan itu ketengah ruangan, tempat aku duduk tadi. Ibu nana duduk sambil mempersiapkan sumpit dan sendok yang aku butuhkan untuk makan, lalu menatapku sedih.

“mwo?” tanyaku sedikit ketus bercampur rasa gugup karena menatapnya dengan penampilan monsterku yang seperti ini.

Ibu nana menatapku, dan itu membuatku sangat kikuk, aku lantas langsung duduk dan menyambar sumpit yang terletak diatas nampan dan sudah disiapkan oleh ibu nana tadi.

“tidak…”

“hanya saja, aku belum terbiasa dengan penampilan mu yang baru ini…”

Aku terdiam. Tak mampu memotong ataupun menimpali langsung kata-kata yang diucapkan oleh ibu nana padaku. Aku sudah menganggapnya bagai ibuku sendiri. aku yakin, aku yakin dia tahu segalanya tentangku.

“bu…”

“eum… iya…”

“apa aku benar-benar … benar-benar sangat mengerikan…” aku mulai angkat bicara, aku mulai menimpali perkataan ibu nana dengan pertanyaanku.

Ibu nana mendekatiku, lalu mengusap lembut rambutku yang tersisa. Satu-satunya dari diriku yang sekarang yang masih sama dengan yang dulu, rambutku yang lebat dan hitam.

“aku tahu kau, aku sangat tahu bagaimana dirimu. Jangan Tanya aku dengan pertanyaan seperti itu. Mengerti?” ujar ibu nana padaku.

Aku menunduk, tak lagi menatap ibu nana dan menahan airmata dalam tundukanku.

(End of POV)

(So Eun’s POV)

“soeun-ah!!!” teriak seseorang dengan namaku. Aku baru saja keluar dari perpustakaan dengan membawa beberapa tumpuk buku yang harus aku selesaikan membaca.

“eh… hei…” ucapku dengan senang ketika tahu kalau yang memanggilku adalah pimpinan redaksi klub berita sekolahku.

“ini file yang kau pinta. Tapi, seperti yang kau tahu ‘kan, headlinenya sudah harus terbit hari ini dan harus jadi headline utama selama sebulan di majalah online sekolah. Kalau tidak…”

“ah ne, arassoyo…  tapi, aku benar-benar berterima kasih padamu…”

“okey, hehe…”

Pimpinan redaksi yang tadi membawakan file didalam flash disc yang aku minta langsung berlalu setelah melemparkan senyumannya padaku.

Aku menatap datar kearah flash disk yang masih ada ditanganku saat ini, lalu menghela nafas panjang.

Panggilan kepada Kim So Eun dari kelas 2-3, harap segera menemui kepala sekolah diruangannya. Sekali lagi diberitahukan kepada…

“eum? Aku???” tanyaku pada diriku sendiri sesaat setelah mendengar kalau namaku dipanggil menuju ruangan kepala sekolah.

***

***

“begini, saya memanggilmu kesini berhubungan erat dengan kimbum dan juga pemilihan presiden osis tahun ini.”

“…”

Aku masih tidak menjawab apa yang dikatakan oleh bapak kepala sekolah padaku saat ini. Aku masih dengan serius mendengarkan apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh bapak kepala sekolah.

“dan… pagi tadi orang tua kimbum datang menemuiku dan mengatakan kalau dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan, kimbum akan berhenti dari sekolah ini…”

DEG!!!

Mwo? Kim…kimbum… tidak akan bersekolah lagi? Ada apa? Dan … lalu bagaimana dengan presiden osis? Tanyaku membathin.

“ya, mungkin kau tidak akan terkejut dengan berita ini. Tapi, kimbum sedang menjalani pengobatan dan mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.” Lanjut bapak kepala sekolah padaku.

Aku menunduk, aku mulai berpikir. Pasti karena bapak kepala sekolah menganggap aku masih menganggap rival kimbum dan bukan sebagai seorang … teman.

“dan, untuk presiden osis tahun ini, sekolah serahkan kepadamu kim so eun. Kau berhak mendapat kan tempat itu.”

“ah… tapi pak…”

“secara pemilihan kimbum menang, tapi siapa yang akan menjabat kalau kimbum tidak ada? Otomatis, kau lah yang menempati jabatan sebagai presisden osis tahun ini.”

“maaf pak…”

Aku tidak bisa. Aku tidak bisa seperti ini. Kimbum tidak membalas pesanku. Aku tidak tahu dia sakit apa. Bahkan joon teman terdekatnya saja tidak dihubungi kimbum sama sekali. Aku tidak bisa seegois ini menempati tempat yang seharusnya ditempati oleh kimbum.

“kalau kimbum sendiri yang mengatakan kepada para pendukung nya kalau dia mengundurkan diri dan ingin menyerahkan posisi ini padaku, dengan senang hati aku akan menerimanya. Tapi, kalau bukan kimbum sendiri yang mengatakan hal itu, saya tidak bisa pak.. maaf, kalau begitu saya juga mengundurkan diri dari pemilihan presiden osis tahun ini.” Ucapku lantang sambil tersenyum ikhlas.

“kau yakin? Kalau begitu saya akan membuat pemilihan lagi, dan kau otomatis tidak bisa ikut lagi.”

“dengan senang hati. Itu hak bapak… dan sekolah…” aku menutup dan mengakhiri kalimatku.

Dengan sopan dan menunduk aku beranjak pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan hati yang lapang.

(End of POV)

(Kimbum’s POV)

Ini rumah ibu. Rumah tempat persembunyian ibu sewaktu menghindar dari kejaran para paparazzi dan netizen beberapa tahun yang lalu.

“kau sekarang tinggal disini, nak.” Ucap ibu sambil mengusap pelan bahuku.

“kau dan ibu nana akan tinggal disini. Tidak akan ada seorangpun yang tahu kalau kau tinggal disini. Apapun yang kau inginkan akan kami penuhi. Apapun yang kau inginkan. Karena kau dan ibu nana masih dalam tanggungan kami. Jadi jangan pernah ragu untuk menghubungi kami. Oke ibu nana?” ucap ayah sambil bertanya siapkah ibu nana tinggal bersamaku si monster ini disini.

“baik tuan..” ucap ibu nana.

“baiklah, aku dan ibumu harus cepat pergi dari sini. Sebentar lagi pagi. Kau istirahat lah, dan ibu nana jangan lupa jaga kesehatanmu dan juga kimbum.”

“iya tuan…”

“ibu pergi dulu, sayang…”ucap ibu lalu mengelus rambutku hangat.

Aku beranjak menuju jendela yang terbuka dan aku dapat melihat keindahan sungai han diwaktu malam. Aku yakin ayah dan ibu sudah pergi dan sekarang, malam ini hanya ada aku dan ibu nana.

“bum-ah, kau mau tidur? Biar ibu siapkan kamarmu dulu..”

“tidak usah bu, aku tidak lelah. Lebih baik ibu yang tidur, aku masih ingin terus terjaga.”

“eum, baiklah…”

Aku mendengar langkah kaki ibu nana meninggalkanku diruang tengah dan aku benar-benar sendirian sekarang.

Drrd Drrd Drrd

Aku merogoh saku hoodie ku dan mengambil iPhone dari sana. Sejak pagi aku memang menerima banyak sekali sms, tapi tak ada satupun yang aku balas. Kebanyakan sms datangnya dari joon. Dan tadi siang aku juga melihatnya datang kerumahku, tapi tak diizinkan masuk oleh siapapun yang ada dibawah.

“s..so eun?”

Ya, sms kali ini datangnya dari soeun.

Bum-ah…

Bum-ah? Dia memanggilku seperti itu?

Ah, maaf… tidak seharusnya aku memanggilmu seperti itu. Tapi, bisa aku tahu alasanmu meninggalkan sekolah yang sebenarnya? Apa benar kau sakit?

-kim so eun-

Kenapa dia sebegitu khawatirnya padaku? Ada apa dengan kim so eun yang aku kenal? Bukannya dia selalu tidak menggubris apapun tindakanku? Ah, iya… pasti sekarang dia sudah jadi presiden osis. Karena aku tidak ada.

Aku mulai mengetik sms dengan kalimat…

Selamat, presiden osis baru sekolah. Kau tidak perlu cemaskan aku. Kau sudah dapatkan tempatmu…

-bum-

Aku meletakkan iPhone diatas meja dekat jendela yang aku tempati tadi. Lalu mengambil laptop dari tasku dan menghidupkan nya. Dengan cepat aku langsung berselancar di majalah online sekolah.

“hmph… sekolah benar-benar membuatnya menjadi headline news. Tapi, kenapa beritanya berbeda?”

Ada yang berbeda. Fotoku dan so eun yang diambil oleh adik kelas satu saat di perpustakaan memang menjadi foto headline di majalah sekolah, tapi kenapa beritanya mengatakan kalau…

Drrd drrd drrd

Aku langsung mengambil ponselku dan membaca sms yang aku yakin dari soeun.

Aku tidak mungkin seegois itu. ^^ kita mencalonkan diri untuk bersaing secara normal. Bukan berarti karena kau sakit dan menghilang dengan bebas aku dapat meraih posisi itu. Kimbum-ssi… aku… aku bukan orang seperti itu.

-kim so eun-

Aku membiarkan iPhone tetap ditanganku sementara mataku menatap datar kearah fotoku dan soeun di hari sebelum pemilihan dan kejadian ini menimpaku. So eun benar-benar tidak seperti yang aku bayangkan.

Sedetik kemudian aku kembali menerima sms dari soeun…

Kimbum-ssi…

Mungkin kau akan  muntah ketika aku mengatakan hal ini, tapi..

Kami semua pasti merindukanmu… ^0^

-kim so eun-

“kalian? Kau… merindukanku?” tanyaku setengah berbisik pada diriku sendiri.

Tangan kananku bergerak menggerakan mouse pada laptopku, dan menyimpan fotoku dan kim so eun saat di perpustakaan beberapa waktu yang lalu.

“kim so eun…” gumamku lemah

(End of OV)

(Author’s POV)

Kimbum bangun sangat pagi bahkan ibu nana belum bangun dari tidurnya. Dan betapa kagetnya ibu nana ketika banging dan melihat kimbum sedang menonton TV dengan laptop yang ada dipangkuannya di ruang tengah.

“bum-ah, kenapa kau tidak membangunkanku?” Tanya ibu nana pada kimbum sedikit kesal karena pagi itu dia telat untuk bangun.

“o? eum… kau pasti sangat lelah. Selama 5 bulan ini selalu kau yang tidur lebih lama dan bangun lebih dari awal dariku. Aku tidak bisa setega itu membiarkanmu seperti layaknya pembantu dirumahku ini.” Ucap kimbum menjawab pertanyaan ibu nana setelah itu tersenyum kecil.

“ouh iya, aku sudah buatkan sarapan untukmu. Kau harus makan itu, bu…” lanjut kimbum dan itu membuat ibu nana menjadi sangat bingung.

“heum. Baiklah…”

Ting Tong Ting Tong…

Suara bel dan itu cukup membelalakkan kedua mata kimbum dan juga ibu nana. Selama 5 bulan disini, tidak pernah ada yang datang bertamu. dan, ada apa dengan hari ini? Kenapa tiba-tiba saja bel yang sudah mulai rusak itu bordering hebat dan memecah kesunyian pagi ini?

“biar aku lihat, mungkin ayahmu datang berkunjung.”

“tidak mungkin. Bagaimana mungkin ayah yang sangat bingung datang berkunjung untuk melihat anaknya yang seperti …  monster…”

“aku lihat dulu…”

“biar aku, bu.” Ucap kimbum lalu bangkit dari sofa.

Ibu nana menatap kimbum memelas, lalu mempersilahkan kimbum memenuhi keinginan kimbum sendiri.

“baiklah…”

Kimbum berjalan sedikit gugup menuju pintu utama. Dan… dia menutup kepala nya sehingga bagian wajahnya sedikit tak terlihat. Kimbum menekan intercom yang ada diruangannya dan sekarang dia dapat melihat siapa yang memencet bel rumahnya.

“k..ka..s..so..eun?”

(End of POV)

***

To be Continued … ^^

12 thoughts on “Love isn’t How Handsome You are … ~ Part 2

  1. So eun baik banget…
    Kim bum, apapun yg terjadi… Saranghaeo…
    *hehhehe*
    Lho ? Kok da so eun disitu ?? Tetanggaan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s